Sebuah Keputusan, Sebuah Perubahan

Sebuah Keputusan, Sebuah Perubahan

Ratusan ribu nasihat telah diucapkan dan didengar dalam setiap perjalanan hidup dan keputusan melangkah yang diambil. Namun, “pengalaman adalah guru paling berharga” adalah salah satu dari sekian banyak nasihat yang tidak lekang oleh waktu dan perubahan zaman. Pengalaman memiliki porsi masing-masing untuk terekam singkat atau selamanya dengan cara mereka menyentuh dan menyapa setiap orang.

Santo Yakobus menulis bahwa “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Kematian iman tidak pernah diinginkan Tuhan untuk terjadi pada manusia yang dikasihi-Nya. Tuhan selalu mencoba menyapa dan membuka hati manusia dengan pengalaman-pengalaman hidup yang dijalani. Mengasihi, mengampuni, dan merasakan kepedihan hidup orang lain akan membuat manusia mengingat dan kembali bersyukur untuk seluruh anugerah kehidupan.

Berbagi kepada sesama dan ikut merasakan kepedihan mereka adalah dua pengalaman iman yang dirasakan oleh hampir setiap peserta Fun Charity yang diselenggarakan oleh Spes Cordis (salah satu kerasulan di Domus Cordis) di wilayah perbukitan Menoreh pada akhir bulan Juni 2016. Acara yang diselenggarakan hanya dalam tiga hari singkat ini sanggup menyentuh dan mengubah cara pandang setiap peserta terhadap kehidupan serta cara menyikapinya dengan cara yang Tuhan kehendaki.

Acara ini dimulai dengan pengenalan satu sama lain untuk melebur jarak dan mendekatkan peserta dalam membangun kerja sama. Berjalan mengelilingi Dusun Bantar (Kelurahan Bangun Cipta, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta) dan melihat karya sederhana masyarakat dalam mencari nafkah dan mempertahankan tradisi. Hari selanjutnya disibukkan dengan misa pagi, berkeliling ke tiga desa untuk memberikan pengobatan gratis dan pembagian beasiswa kepada warga, dan berdoa Rosario di Gua Maria Sendangsono untuk menutup hari. Esoknya dimulai dengan pengobatan gratis dan pembagian beasiswa ke satu desa dan diakhiri dengan sharing pengalaman iman setiap peserta.

Peristiwa yang dialami setiap peserta bisa jadi hampir sama, tetapi cara Tuhan menyapa dan mengubah hidup tidak pernah sama. Setiap orang yang ditemui, setiap cerita yang ditukar, setiap kejadian yang direkam, setiap ucapan tulus, setiap tindakan kasih; menyentuh setiap peserta dan menghasilkan rangkaian cerita yang Tuhan ingin seluruhnya dibagikan agar setiap orang yang belum terpanggil, datang dan menyerahkan diri secara tulus untuk sepenggal waktu bagi-Nya.

Cerita yang dimulai dari pengorbanan kakek-nenek yang berjalan kaki dengan langkah kecil dan renta selama lebih dari tiga jam di pagi buta untuk mengikuti misa kudus dan tanpa mengeluh kembali berjalan lebih dari tiga jam kembali ke rumah. Cerita mengenai kekaguman akan hidup sederhana saat kecepatan perubahan zaman berjejal dan menyesaki setiap orang dengan tuntutan kepuasan semakin tinggi.

Cerita mengenai kesabaran dan senyum tulus saat tidak mendapatkan apa yang seharusnya bisa menjadi haknya. Cerita sebuah pengakuan jujur bagaimana Tuhan memanggil dan mengatur segalanya dengan sempurna saat Ia sungguh menginginkan kita hadir dan merasakan dahsyat kekuatan-Nya, serta saat hati tulus mengalahkan segala ketidakmungkinan.

Sebuah pengakuan bahwa seberapa kuat pun manusia, hanya Tuhan yang sanggup mengubahkan hidup secara menyeluruh dan memberikan kebahagiaan sejati, meski tanpa materi berlimpah. Penggalan kejadian yang membuat kita mengingat kembali pengalaman hidup, menyesal, dan menjanjikan sebuah perubahan. Puluhan cerita dan kesaksian yang dituturkan dengan air mata. Sentuhan Roh Kudus yang merendahkan hati untuk bersyukur. Serta perubahan cara pandang terhadap hidup untuk melayani dan memberikan perhatian lebih kepada mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.

Menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah tidak harus selalu melalui doa panjang dan nyanyian merdu. Merasakan kehadiran Tuhan tidak harus saat berada dalam kesulitan atau bahaya. Mengakui kekuatan Tuhan tidak harus saat keajaiban atau mukjizat terasa. Mengikuti Tuhan tidak harus saat dosa terasa begitu menakutkan dan kehidupan begitu tidak adil. Melayani siapa pun yang membutuhkan tidak harus berupa materi atau saat materi terasa berlebih.

Memberikan kebahagiaan dimulai dari kesadaran akan lemahnya diri dan singkatnya hidup. Membagikan senyum dimulai dengan kesadaran bahwa senyum serta tangis bahagia orang lain menyejukkan jiwa yang terluka. Dan merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk bersyukur dalam bisikan doa yang tulus adalah sebuah kebutuhan untuk menghadirkan Kerajaan Allah secara nyata di dunia.

Comments (0)

Write a Comment