Who Do You Work For ? The Sanctity of Work (Kerja adalah Kekudusan)

Who Do You Work For ? The Sanctity of Work (Kerja adalah Kekudusan)

Seperti yang sudah dibahas dalam artikel ‘Reasons To Distribute Your Wealth ‘. Panggilan untuk bekerja adalah panggilan primordial/mula-mula seorang pria. “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” ( Kej 2:15 ). Tugas kita adalah mengusahakan dan memelihara saja karena semuanya telah disediakan oleh Tuhan untuk kepentingan bersama. Sejak awal Allah telah mempercayakan bumi dengan harta miliknya kepada manusia untuk diolah bersama, sehingga mereka mengusahakan bumi, menguasainya melalui karyanya, dan menikmati hasil-hasilnya  Bdk. Kej 1:26-29. Harta ciptaan ditentukan untuk seluruh umat manusia “ ( Katekismus Gereja Katolik no. 2402)3

Tujuan bekerja untuk manusia modern adalah untuk memperkaya dirinya. Apabila sudah mempunyai keluarga, maka tujuannya adalah untuk memperkaya keluarganya. Biasanya tujuannya hanya stop sampai disini. Kalo kita adakan survey, maka saya yakin kalau orang-orang ditanya apakah tujuan bekerja? Maka jawabannya adalah: supaya hidup tidak susah, bisa bayar-bayar tagihan, bayar rumah, cicilan mobil, untuk pendidikan anak-anak, dan rekreasi. Saya yakin jawaban ini adalah jawaban yang terbesar populasinya dalam statistik.

Tapi apakah tujuan bekerja adalah hanya ini saja? Gereja mengajarkan bahwa bekerja bukanlah hanya untuk hidup saja tetapi adalah perpanjangan karya Tuhan didunia ini yang juga mengangkat dignity (derajat) manusia itu sendiri. Dan karya atau buah dari pekerjaan kita bukan hanya untuk diri kita saja, tetapi harus memberkati: keluarga kita, masyarakat dimana kita bertempat, masyarakat diluar tempat kita hidup karena kita adalah bagian dari satu keluarga manusia secara kolektif. Pekerjaan kita juga harus memberkati kelangsungan hidup saat ini baik individu maupun masyarakat luas dan juga memberkati kelangsungan hidup untuk zaman-zaman yang akan datang dimana generasi baru akan menikmatinya. (Exercens Laborem # 16, John Paul II )

Dulu saya ada pemikiran bahwa hidup ini sederhana saja, yang penting cukup tidak berlebih-lebihan. Asal keluarga sudah cukup, itu sudah cukup. Memang kelihatannya pemikiran ini adalah sungguh rendah hati dan sederhana, tetapi apabila pemikiran ini dimasukan kedalam perspektif apa arti sesungguhnya bekerja itu, maka pemikiran ini menjadi kerdil dan egocentric ( hanya mementingkan keperluan pribadi). Kalo mau mengikuti tujuan bekerja dalam arti sebenarnya, apabila kepentingan individu telah terpenuhi, maka kita harus tetap bekerja dan terus berkembang untuk menolong orang-orang lain seperti keluarga sendiri, saudara-saudara kita, dan apabila ini sudah terpenuhi semua, maka kita pun dipanggil untuk memberkati masyarakat sekitar kita. Apabila ini pun sudah, maka kita pun dipanggil untuk memberkati masyarakat diluar area kita. Kita juga harus bekerja untuk memberkati dan menyiapkan untuk generasi yang selanjutnya agar mereka pun bisa menikmati harta dan kekayaan yang telah disediakan Tuhan pada awalnya.

Jadi bekerjalah sebaik-baiknya agar mendapatkan hasil yang lebih besar lagi. Karena kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk orang-orang disekitar kita. Pertama untuk anak-anak dan pasangan kita. Kedua, untuk saudara-saudara dekat kita, ketiga untuk orang-orang yang bekerja kepada kita, seperti: pembantu rumah tangga, supir, atau karyawan-karyawan lain. Keempat, untuk masyarakat miskin disekitar kita, kelima, untuk masyarakat miskin diluar area kita. Mereka semua ini bisa diberkati oleh pekerjaan kita. Menjadi orang kaya itu tidak dosa, yang menjadi dosa dan kebodohan adalah kita menjadi kaya dan tidak berbagi. Orang-orang miskin membutuhkan pertolongan anda, kalo bukan kita, siapa lagi? Kalo bukan sekarang, kapan? Jangan puas karena kita dan keluarga sudah cukup, tetapi berkembanglah terus untuk memberkati lebih banyak orang-orang lain. Tuhan tidak memanggil kita hanya untuk survive (cukup )tapi Tuhan memanggil kita untuk thrive ( berkembang melimpah).

Comments (0)

Write a Comment