Reasons To Distribute Your Wealth (Alasan Untuk Berbagi Kekayaan)

Reasons To Distribute Your Wealth (Alasan Untuk Berbagi Kekayaan)

“…saya mau nyumbang sih, tapi masih banyak keperluan…” mungkin banyak dari kita yang merasa demikian. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hidup di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya memang mahal. Percaya tidak percaya, berdasarkan pengalaman pribadi hidup di Los Angeles suburbs selama 16 tahun, hidup di Jakarta tidak semurah yang saya kira. Biaya hidup hampir sama dengan di Los Angeles. Malah bensin, listrik, mobil, memang lebih mahal di Jakarta.

Tapi kita harus tetap bersyukur karena menurut data statistik yang ada (2008), hampir setengah populasi manusia di bumi ini hanya berpenghasilan $2.50/perhari (atau sekitar Rp 25000/hari dengan kurs Rp12000). Rp 25000/hari adalah Rp 750 ribu/bulan.   80% manusia dibumi ini berpenghasilan dibawah Rp 120000/hari atau Rp 3,6 juta/bulan. Kalo anda berpenghasilan lebih dari 3,6 juta/bulan berarti anda harus sangat bersyukur karena anda kaum elite yaitu hanya 20% dari populasi dunia! Dari 2,2 milyar anak didunia ini, setengahnya hidup dalam kemiskinan. Ini berarti hampir 50% atau setiap 2 anak, satu hidup dalam kemiskinan 1

Itu adalah realita disekeliling kita yang terjadi sekarang. Mengapa kita harus memberikan sebagian hasil jerih payah kita kepada mereka? Padahal kita yang lelah-lelah bekerja namun mengapa memberikan kepada mereka? Tuhan itu sangat baik dan pemberi. Kadang teramat baik, sehingga kita lupa bahwa rejeki itu sebetulnya telah disediakan untuk kita masing-masing dengan cukup dan untuk menopang kehidupan manusia didunia ini sampai jangka waktu yang sangat lama sekali ( geological years!). Tugas kita adalah hanya mengolahnya atau membagi-bagikannya dengan baik supaya tidak ada yang sangat kelebihan dimana orang disampingnya sangat kekurangan. Ini sama seperti perintah Tuhan kepada Adam di taman Eden yaitu : “…untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)2. “Sejak awal Allah telah mempercayakan bumi dengan harta miliknya kepada manusia untuk diolah bersama, sehingga mereka mengusahakan bumi, menguasainya melalui karyanya, dan menikmati hasil-hasilnya Bdk. Kej 1:26-29. Harta ciptaan ditentukan untuk seluruh umat manusia “ ( Katekismus Gereja Katolik no. 2402)3 Rejeki yang kita terima adalah sebetulnya milik bersama, ya betul! untuk kepentingan bersama. Itulah tujuan mula-mulanya. Tetapi manusia sering lupa, kita merasa rejeki itu berasal dari kita, padahal sudah disediakan semuanya oleh Tuhan. Sama halnya, seperti orang tua memberikan anaknya motor atau mobil. Lama kelamaan anak itu akan merasa bahwa motor atau mobil itu adalah miliknya dan sangat mungkin anak itu lupa bahwa itu adalah pemberian orang tuanya. Malah seringkali kalau didepan teman-temannya, dia bersikap seolah-olah dia “membelinya” dengan jerih payah sendiri. Itulah manusia kadang lupa siapa pemberi segalanya.

Banyak orang menyalahkan atau bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan anak-anak mati kelaparan? Bukankah Tuhan adalah Bapak yang baik? Mengapa anak-anak kecil di Indonesia atau di Afrika sana bisa mati kelaparan dan Tuhan diam saja??? Tuhan telah memberikan dan mempercayakan bumi dengan harta kekayaannya yang melimpah untuk semua umat manusia pada awalnya dan ini cukup hingga waktu yang sangat lama sekali ( sudah 4,5 milyar tahun dunia ini belum juga kekurangan kekayaannya). Siapakah yang tidak adil membagi-bagikannya? Siapakah yang tutup mata melihat kemiskinan tapi tidak mau disalahkan? Siapakah yang lupa untuk membagi padahal sudah diberi cuma-cuma? Tuhan sudah memberikannya kepada kita secara adil, He does his part, and now it is our time! If it is not us, then who?, if it is not now, then when?

Comments (0)

Write a Comment