Perlunya Bersinergi Memberikan Bekal Terbaik bagi Anak

Perlunya Bersinergi Memberikan Bekal Terbaik bagi Anak

“Anak-anak sekarang mah beda ama anak jaman dulu. Susah banget dibilangin. Bawaannya ngejawab mulu kalau orang tua lagi kasih nasehat. Dulu mah kita boro-boro ngelawan.. Angkat muka aja gak berani..”

“Duuh, tiap hari kerjanya pegang gadget aja. Ya Line’an ama temen, buka Snapchat, mantengin follower Instagram, nontonin YouTube, dan lain-lain. Jadi berasa makin susah ngawasinnya. Terlalu ketat salah, terlalu cuek juga gak mungkin..”

Kira-kira itulah berbagai gambaran keluhan, kebingungan maupun keresahan yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di antara orang tua, guru, serta orang-orang yang peduli terhadap perkembangan anak.

Saya rasa, kita semua sama-sama tahu dan bisa merasakan kalau jaman memang sudah berubah. Teknologi dan riset yang terus berkembang dan inovasi mulai banyak bermunculan. Bahkan di akhir tahun kemarin, Indonesia sudah turut serta dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang tentunya membawa berbagai dampak. Di satu sisi, kita nampaknya menjadi semakin mudah bila ingin bekerja maupun menjalin bisnis dengan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Namun di sisi lain, kompetitornya pun semakin menantang. Kita bukan lagi dipilih karena menjadi terbaik dari antara yang buruk, melainkan terbaik dari antara semua yang baik. Sekarang, coba lihat anak-anak kita dan bayangkan beberapa tahun ke depan. Akan jadi seperti apakah mereka? Siapkah mereka menghadapi pesatnya perkembangan jaman ini?

Siap atau tidak siap, tentunya perubahan akan terus terjadi. Kita tidak mungkin melawan perubahan. Yang bisa dilakukan adalah membekali diri dengan berbagai pengetahuan, keterampilan serta karakter melalui pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan tidak melulu hanya menekankan pada sisi akademik saja melainkan semua hal yang dimaksudkan untuk menyiapkan seseorang menjadi dewasa. Mengutip perkataan Aristoteles bahwa “Educating the mind without educating the heart, is no education”. Apalah artinya kita teramat sangat pintar namun acuh tak acuh terhadap orang lain?

Dalam Amsal 22:6 tertulis “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. Dengan demikian, kegiatan mendidik bukan lagi hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah melainkan kita semua. Kita perlu ambil bagian dalam proses ini. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Kita bisa memulainya dari lingkup kecil dan dekat dahulu seperti dalam keluarga, gereja, komunitas (misalnya ikut membantu Program Pendampingan Spes Cordis), dsb. Waktu terus berjalan, mari kita mulai bersama. “If not me, who? If not now, when?”  (Emma Watson, 2014).

Comments (0)

Write a Comment