Perjumpaan dengan Kristus

Perjumpaan dengan Kristus

Bunyi alarm telepon genggam pukul 06.00 pagi membuatku langsung berdiri dan mengambil handuk. Kumulai hari dengan bangun jauh lebih pagi dari biasa dan mandi dengan air yang sangat dingin buatku. Aku bersama teman-teman hadir di ruang makan untuk sarapan, kemudian kami bertujuh pun mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa untuk ‘pengobatan gratis’.

Dimulai dengan doa bersama, dua mobil beriringan menuju Manurara-Watu Dedi. Romo Simon Tenda, CssR dan Sr. Maria Reginaldis, PRR menemani kami menuju desa tersebut. Lama perjalanan kami tempuh sekitar 20 menit. Jalan aspal kecil yang menanjak dengan pemandangan yang hijau di kiri dan kanan, memuaskan mata. Terlihat beberapa rumah penduduk yang terbuat dari bambu dan papan. Tidak terlihat mobil lain sepanjang jalan dan hanya beberapa motor yang berpapasan dengan kami. Setelah 20 menit, terlihat orang-orang berkumpul di sebuah bangunan batu bata bercat hijau yang permanen (kantor kepala desa) dan kendaraan kami pun memperlambat lajunya dan berhenti di depannya.

Turun dari mobil, kami diperkenalkan dengan dua orang warga setempat dan salah satunya adalah kepala desa tersebut. Memasuki ruang yang berbentuk L, kami langsung menentukan tempat alur pengobatan agar dapat berjalan lancar. Dengan sigap kami membersihkan, mengatur dan menata meja, kursi, barang-barang dan terutama obat-obatan yang butuh extra tepat. Warga sudah mulai ramai berdatangan dan puji Tuhan, pukul 10.00 pengobatan dapat dimulai.

Di tempat pendaftaran kami dibantu oleh pemuda setempat. Ia membantu menjadi perantara kami dengan penduduk setempat. Di meja tensi, kami dibantu oleh seorang suster, begitu pula di meja pengambilan obat kami dibantu oleh seorang bidan yang bekerja di puskesmas pembantu. Penduduk yang datang bukan hanya satu atau dua orang di dalam sebuah keluarga, tetapi hampir semua keluarga datang untuk mendapatkan pengobatan.

Sebagian besar keluhan adalah ngilu dan pegal-pegal pada lutut dan punggung. Hal tersebut dikarenakan oleh proses degeneratif yang umum terjadi pada usia di atas 40 tahun, ditambah lagi berhubungan dengan mata pencaharian mereka yang sebagian besar adalah berkebun dan bertani. Selain itu mereka juga banyak mengeluhkan sakit perut dan nyeri ulu hati. Dari seorang teman yang punya pengalaman berpraktek di sana, ia katakan bahwa penduduk banyak yang terlambat makan dan bahkan masih kesulitan untuk makan. Ditambah dengan kebiasaan mereka mengkonsumsi pinang dan sirih juga kapur yang dapat menambah masalah pada lambung. Keluhan batuk juga menjadi salah satu keluhan utama laki-laki di desa tersebut. Hampir semua laki-laki dewasa dan tua merokok. Mereka mengeluhkan batuk dan sesak tetapi gaya hidup mereka yang merokok kuat tetap tidak bisa dihentikan. Dan yang terakhir banyak dikeluhkan adalah masalah mata adalah ‘presbiopia’ dan katarak.

Kami memprediksi sekitar pukul 13.00 atau pukul 14.00 pengobatan gratis ini akan selesai, mengingat kami hanya melayani satu desa saja. Tetapi sekitar pukul 13.00, penduduk yang datang bukannya makin sedikit tetapi malah bertambah. Suster mengabarkan bahwa ternyata penduduk desa sebelah yang mendengar ada pengobatan gratis ini, pun datang untuk mendapatkan pelayanan. Tidak sampai hati kami menolak kedatangan mereka, karena mereka jauh-jauh datang berjalan kaki, maka kami pun melanjutkan menerima pengobatan ini. Terpaksa tim kami harus membelah diri untuk makan siang secara bergantian. Makan siang kami disediakan oleh seorang ‘mama’ yang rumahnya tidak jauh dari tempat kegiatan.

Pukul 15.00, penduduk masih berdatangan, tetapi kali ini (dibantu oleh suster) kami dengan terpaksa kami mengumumkan bahwa pendaftaran akan ditutup pukul 15.30 karena kami harus menghadari misa pembukaan acara JAMBORE REMAJA di Pusat Pembinaan Pastoral dan Sosial (PusPaS) Keuskupan Weetabula. Akhirnya kami berhasil menyelesaikan acara pengobatan pada pukul 17.00. Romo Simon kembali datang menjemput tim untuk kembali ke PusPaS dan misa pembukaan dimulai pukul 17.30.

Hari yang melelahkan. Ada seratus tujuh puluh delapan ‘pasien’ yang datang dan mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Di tengah kelelahan, kami berusaha memberikan senyum, sapa dan pelayanan yang terbaik. Obat-obatan yang kami bawa tidaklah banyak dan hanya bersifat sementara. Kami hanya dapat menawarkan keberadaan kami yang hanya beberapa jam, senyuman dan sapaan. Berharap dengan itu semua, dapat sedikit membuat mereka merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang lain yang bukan keluarga.

Niat kami yang datang adalah untuk memberi dan mencintai, pada kenyataannya justru kami yang banyak belajar dan mendapat pesan dari Tuhan. Walaupun sangat lelah secara fisik, tetapi kami diberikan sukacita yang mendalam karena merasa sangat dicintai dengan cara mereka yang menyambut dan menerima kami dengan tulus hati. Kami diingatkan kembali akan wajah Tuhan yang bukan hanya dalam keluarga dan teman-teman dalam komunitas, tetapi juga ada pada orang orang miskin yang tidak kita kenal. Kami juga diingatkan untuk semakin sabar dalam menghadapi orang-orang yang tidak berpikiran dan berlaku sama dengan kebiasaan kami. Sulitnya mendapatkan air bersih di daerah mereka, menyadarkan kami untuk sebijaksana mungkin menggunakan air yang berlimpah di Jakarta.

Ini bukan kegiatan pengobatan gratis kami yang pertama dan kami yakin bahwa ini bukan yang terakhir. Kami berdoa semoga Tuhan selalu memberkati dan menjaga saudara-saudara yang kami jumpai di Sumba dan selalu memberikan kami panggilan dalam hati untuk melayani saudara-saudara yang membutuhkan di tempat yang Tuhan tunjukkan.

Comments (0)

Write a Comment